291113; Dinihari : Harapan

Manusia hidup dengan harapan-harapan. Bercita-cita dan memyelami angan-angan. Tapi nyatanya hidup tak memberikan jaminan pewujudan akan harapan-harapan tersebut. Hal yang pasti dalam kehidupan adalah ketidakpastian. Tak terbentang jalan lurus, tapi berliku penuh hantaman dan harapan mulai hilang tempat untuk ditangguhkan. Sehingga bisalah kita sampai pada keadaan yang seperti Rendra katakan “Hidup yang tak hidup, karena kehilangan daya dan fitrahnya.”

Selama ada keinginan untuk hidup, manusia akan menemukan jalan. Hidup adalah pilihan, menangguhkan atau merelakan harapan-harapan tersebut. Kasarnya, fight or flight, lawan atau minggat. Tapi kembali kita dihadapkan pada persoalan : siapa yang kita lawan, dan dari siapa kita kabur.

Untuk menjawabnya mari kita coba runtut pada asal muasal harapan tersebut lahir. Manusia memiliki dua dimensi yang membentuk dirinya. Dimensi “I”, dimana motivasi untuk berperilaku didorong dari diri sendiri dan dimensi “Me”, dimana dorongan hadir dari luar. Terlepas darimana yang dominan, untuk meyakini suatu hal ada proses berpikir dan bernalar. Pada proses inilah kita bertarung, menimbang-nimbang baik buruknya suatu harapan untuk diyakini dan dipegang, lalu memutuskan. Pada akhirnya yang kita lawan dan kabur darinya adalah persepsi-persepsi dan ketakutan diri sendiri.

Seperti berladang, untuk minggat berarti meninggalkan lahan yang dianggap usang untuk mencari lahan baru yang dianggap lebih produktif. Dalam pencariannya, kembali kita berhadapan dengan proses menimbang.

Butuh kekuatan untuk tangguh pada suatu harapan. Mengingat hantaman-hantaman yang akan datang untuk membuat kita lelah bertahan. Persoalannya dari manakah kekuatan itu datang. Ada orang yang menggantungkan harapannya pada doa-doa yang dipanjatkan pada Tuhan. Berharap agar harapannya terwujud. Di lain pihak ada Nietszche berkata “Hiduplah menantang bahaya!” bersama konsep Ubermenschnya yang bisa saya lihat manifestasinya pada Pramoedya Ananta Toer, yang mana ia pernah berkata “Saya Pramis, saya percaya pada diri saya sendiri.”

Dari sana kita bisa melihat : Untuk menangguhkan suatu harapan, ia didudukan pada suatu kekuatan, kepercayaan, yang hadir dari berbagai tempat. Menggantungkannya pada kekuatan yang dipercaya lebih besar, atau membangunnya dari diri sendiri.

Banyak berbicara soal harapan, pada akhirnya kita akan kembali bertemu dengan kenyataan. Yang tak bisa ditawar, dan tak bisa diubah. Sampai akhirnya kita hanya bisa menerimanya secara mentah. Dalam cerpennya yang berjudul “Jakarta” Pram pernah menulis :

Dunia ini penuh dengan cita dan angan yang cantik, tetapi selalu retak berhamburan bila disentuh oleh tangan sang kenyataan … siapa yang tidak kuat, mati!

Sebuah penerimaan pun memerlukan sebuah kekuatan. Dan tentunya : harapan baru.

Masih seperti hidup terkesan di dalam benakku, hutan rimba nundisana yang terhias oleh hijau abadi beribu ribu bunga, yang harumnya tidak pernah melemah Dengan telinga bathinku aku mendengar angin laut mendesah diantara pohon pohon pisang dan puncak puncak pohon nyiur, deburnya air terjun di daerah pedalaman yang jatuh dari ketinggian tebing tebing gunung , seolah olah saya menghirup hawa di pagi yang sejuk, seakan akan Saya kembali berada di muka gubuk orang jawa yang ramah, sedang sepi yang senyap masih meliputi hutan rimba asli yang mengelilingi diriku, Tinggi diatas ku, diawang awang kelompok-kelompok kalong dengan mengibas ngibas sayapnya bergegas kembali ke daerah tempat bermukimnya disiang hari kemudian mulai ada kehidupan dan gerakan di sengkuap tajukdari rimba rimba. Burung burung merak meneriakan cuhungnya. kera kera mulai lagi permainannya yang lincah, sedang gema suaranya membangunkan gunung-gunung dengan nyanyian paginya. beribu ribu burung mulai kicaunya , dan sebelum matahari mewarnai langit timur, puncak yang megah dari gunung di sana telah dipulas dengan emas dan merah cerah dari ketinggian dia memandai diriku seperti kenalan lama kerinduanku menanjak dan dengan haus kuharapkan datangnya hari , waktu mana aku dapat mengatakan : “SALAMKU UNTUKMU, GUNUNG-GUNUNG” (Leiden, November 1851)

Masih seperti hidup terkesan di dalam benakku,
hutan rimba nundisana yang terhias oleh hijau abadi
beribu ribu bunga, yang harumnya tidak pernah melemah

Dengan telinga bathinku aku mendengar
angin laut mendesah diantara pohon pohon pisang dan puncak puncak pohon nyiur,
deburnya air terjun di daerah pedalaman yang jatuh dari ketinggian tebing tebing gunung ,
seolah olah saya menghirup hawa di pagi yang sejuk,
seakan akan Saya kembali berada di muka gubuk orang jawa yang ramah,
sedang sepi yang senyap masih meliputi hutan rimba asli yang mengelilingi diriku,

Tinggi diatas ku, diawang awang kelompok-kelompok kalong dengan mengibas ngibas sayapnya
bergegas kembali ke daerah tempat bermukimnya disiang hari
kemudian mulai ada kehidupan dan gerakan di sengkuap tajukdari rimba rimba.
Burung burung merak meneriakan cuhungnya.
kera kera mulai lagi permainannya yang lincah,
sedang gema suaranya membangunkan gunung-gunung dengan nyanyian paginya.
beribu ribu burung mulai kicaunya ,
dan sebelum matahari mewarnai langit timur,
puncak yang megah dari gunung di sana telah dipulas dengan emas dan merah cerah
dari ketinggian dia memandai diriku seperti kenalan lama

kerinduanku menanjak
dan dengan haus kuharapkan datangnya hari ,
waktu mana aku dapat mengatakan :

“SALAMKU UNTUKMU, GUNUNG-GUNUNG”

(Leiden, November 1851)